Mahasiswa UNY Praktik Kependidikan di MAN 5 Sleman Gelar Workshop Pengembangan & Profesionalisme Guru, Dorong Transformasi Digital dalam Penyusunan Bahan Ajar

Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta — Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yang tengah menjalani praktik kependidikan di MAN 5 Sleman, menggelar Workshop Pengembangan & Profesionalisme Guru bertajuk “Transformasi Digital dalam Penyusunan Bahan Ajar” pada 31 Agustus–4 September 2026. Kegiatan ini menghadirkan Ibu Asa Wisesa Betari, S.Pd., M.Li., dosen UNY, sebagai pemateri utama, didampingi beberapa pemateri lain yang membawakan sesi-sesi pendukung.

Workshop ini digelar sebagai salah satu program kerja mahasiswa selama menjalani praktik kependidikan, sekaligus merespons kebutuhan guru untuk beradaptasi dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, tak terkecuali kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dalam proses penyusunan bahan ajar. Selama lima hari pelaksanaan, para guru MAN 5 Sleman dibekali beragam strategi dan keterampilan praktis untuk memanfaatkan teknologi digital secara tepat guna, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perubahan lanskap pembelajaran di era digital.

Materi Utama: Transformasi Digital dalam Penyusunan Bahan Ajar

Dalam sesi utamanya, Ibu Asa Wisesa Betari memaparkan bagaimana transformasi digital dapat dimanfaatkan secara optimal dalam menyusun bahan ajar. Ia mengajak para guru untuk memahami arah perkembangan teknologi, termasuk kemunculan AI, sekaligus menegaskan bahwa teknologi semestinya mendukung, bukan menggantikan, peran guru sebagai perancang utama proses pembelajaran.

Rayvan Galih Naufal S: Praktik Pemanfaatan AI dalam Penyusunan Modul Ajar

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah materi mengenai pemanfaatan AI dalam penyusunan modul ajar, yang dibawakan oleh Rayvan Galih Naufal S, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris UNY yang tengah menjalani praktik kependidikan di MAN 5 Sleman. Dalam sesinya, Rayvan mendemonstrasikan secara langsung bagaimana teknologi AI dapat membantu guru menyusun kerangka modul ajar dengan cepat dan efisien.

Sebagai contoh, di layar presentasi ditampilkan rancangan modul ajar mata pelajaran Bahasa Inggris untuk Fase F/Kelas XI dengan materi pokok Descriptive Text. Rancangan tersebut memuat komponen informasi umum yang lengkap, mulai dari identitas modul, elemen capaian (Membaca-Memirsa dan Menulis-Mempresentasikan), alokasi waktu 2 JP (2 x 45 menit) untuk satu kali pertemuan, hingga tema Kurikulum Berbasis Cinta “Cinta Diri dan Sesama Manusia” dengan materi imersi mensyukuri kehadiran orang-orang terkasih di sekitar peserta didik.

Meski memperlihatkan kemudahan yang ditawarkan AI, Rayvan mengingatkan bahwa kemudahan tersebut bukan berarti guru bisa sepenuhnya menyerahkan proses penyusunan modul ajar kepada teknologi.

“Membuat modul ajar dengan bantuan AI itu sangat mungkin dan sangat mudah dilakukan. Tapi, penyusunan modul ajar sebaiknya, bahkan sewajibnya, tetap dilakukan sendiri oleh guru. AI hanya boleh diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai alat utama,” tegasnya di hadapan para peserta.

Menariknya, pandangan tersebut tidak lepas dari pengalaman Rayvan sebagai mahasiswa yang pernah diajar langsung oleh Ibu Asa Wisesa Betari semasa kuliah.
“Saya belajar banyak dari Bu Asa, terutama soal cara menggunakan AI secara bijak dan menempatkannya sebagai alat bantu, bukan pengganti peran guru. Ilmu itu yang saya coba bagikan kembali kepada guru-guru MAN 5 Sleman melalui sesi ini,” ujarnya.

Pentingnya Analisis Kebutuhan Siswa

Rayvan menjelaskan bahwa penyusunan modul ajar melibatkan banyak aspek yang harus disesuaikan dengan kebutuhan riil peserta didik dan konteks kelas — sesuatu yang hanya dipahami oleh guru yang bersangkutan, bukan oleh AI maupun sumber terbuka (open source) lainnya.

“AI tidak mengenal karakter, latar belakang, maupun kebutuhan spesifik siswa-siswa kita di kelas. Analisis kebutuhan atau need analysis itu hanya bisa dilakukan oleh guru yang benar-benar mengenal peserta didiknya,” jelasnya.

Ia mengingatkan para guru untuk bersikap bijak dalam memanfaatkan AI agar tidak terjadi kesalahan atau ketidaksesuaian antara hasil yang dihasilkan AI dengan kebutuhan pembelajaran yang sesungguhnya. Menurutnya, AI paling ideal digunakan untuk mempercepat pekerjaan administratif dan teknis, sementara substansi pedagogis modul ajar tetap harus lahir dari pemikiran dan pengalaman guru di lapangan.

Mendukung Peningkatan Mutu Pendidikan melalui Inovasi

Workshop ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa UNY selama menjalani praktik kependidikan di MAN 5 Sleman, sekaligus wujud kontribusi mereka dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di sekolah tempat mereka praktik. Kegiatan ini sejalan dengan capaian dua poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs): poin ke-4 (Pendidikan Berkualitas) dan poin ke-9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Perpaduan antara materi utama dan sesi-sesi pendukung seperti yang dibawakan Rayvan menjadi contoh bagaimana pengetahuan akademik dapat diterjemahkan menjadi praktik yang aplikatif bagi guru di lapangan.

Melalui kegiatan ini, para guru MAN 5 Sleman diharapkan tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi digital secara optimal, tetapi juga tetap mempertahankan peran esensial mereka sebagai perancang utama proses pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.

Kontributor: Rayvan Galih Naufal S