Bahasa Indonesia
English
You are here
Student Wellbeing Voices: Menggali Kesejahteraan Belajar Siswa Kelas XI SMA N 2 Ngaglik, Dukung SDG 3
Submitted by admin on Tue, 2026-09-22 16:28
Sleman — Pada 08–14 September 2026, mahasiswa Praktik Kependidikan (PK) Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Kayana Amoretta Azizah, melaksanakan kegiatan wawancara bertema “Student Wellbeing Voices” kepada lima siswa kelas XI SMA Negeri 2 Ngaglik yang berasal dari kelas XI-A, XI-B, XI-C, dan XI-E. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali pengalaman siswa dalam menghadapi tekanan belajar sekaligus memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan cerita dan pandangan mereka mengenai kesejahteraan selama menjalani proses pembelajaran di sekolah serta relevan dengan pencapaian SDGs poin ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera.
Kegiatan wawancara dilaksanakan secara bertahap dalam tiga sesi, yaitu pada 08 September 2026 dengan satu siswa, 11 September 2026 dengan tiga siswa, dan 14 September 2026 dengan satu siswi. Setiap sesi berlangsung secara santai di laboratorium fisika dan kimia dengan menggunakan kombinasi bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Pertanyaan yang diberikan mencakup pengalaman siswa dalam menghadapi beban tugas sekolah, cara mengelola stres, kecukupan waktu istirahat dan waktu luang, serta kenyamanan siswa dalam bercerita kepada guru atau teman ketika menghadapi kesulitan. Pertanyaan lanjutan juga diberikan untuk menggali pengalaman siswa secara lebih mendalam. Kegiatan ini menjadi ruang bagi kelima siswa tersebut untuk menyuarakan perasaan mereka secara personal, sekaligus melatih kemampuan komunikasi bahasa Inggris siswa dalam konteks yang lebih natural.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa memiliki cara yang beragam dalam mengatasi stres belajar. Beberapa siswa memilih berkumpul dengan teman dekat, berolahraga, bermain game, mendengarkan musik atau bermain gitar, hingga mencoba hobi baru. Bagi sebagian siswa, interaksi dengan teman menjadi salah satu cara untuk membuat aktivitas belajar terasa lebih ringan. Hal tersebut disampaikan oleh Djibril Ameera Rayya Nugroho (XI E), “Maybe it's having some friends that are close to me... kayak seberat-beratnya belajar tuh ketemu mereka tuh jadi kayak lebih fun gitu.”
Selain cara mengelola stres, wawancara juga menunjukkan adanya perbedaan pengalaman siswa dalam memperoleh waktu istirahat dan waktu luang. Beberapa siswa merasa memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat, sementara siswa lainnya merasa waktu luang mereka terbatas karena jadwal sekolah maupun kegiatan lain setelah sekolah. Nara Cetta Samsudin (XI C) mengungkapkan bahwa jam pulang sekolah yang cukup sore membuatnya merasa tidak memiliki banyak waktu luang setelah sekolah, “I'm not really have free time after school, cause... we go home at three thirty PM, and... I not really agree with the school schedules like go home at three thirty.”
Keterbatasan waktu tersebut juga dapat dipengaruhi oleh kegiatan lain yang dilakukan siswa setelah jam sekolah. Rarasadhya Nayla Abida (XI B) menceritakan bahwa pemeriksaan kesehatan rutin pada hari Rabu dan Kamis terkadang membuatnya pulang lebih larut, sehingga waktu untuk belajar dan mempersiapkan diri pada keesokan harinya menjadi berkurang. Ia menyampaikan, “I have a daily health check-up after school on Wednesday and Thursday... sometimes I go home so late and I didn't have enough time to study or even prepare myself for the next morning.” Selain itu, beberapa siswa juga menyampaikan bahwa instruksi tugas yang kurang jelas sebelum pengerjaan dapat menjadi salah satu kendala dalam menyelesaikan tugas sekolah.
Melalui kegiatan “Student Wellbeing Voices”, mahasiswa PK memperoleh gambaran awal mengenai pengalaman siswa dalam menghadapi tekanan belajar dan mengatur keseimbangan antara kegiatan akademik, waktu istirahat, serta aktivitas lainnya. Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan pengalaman mereka secara personal dalam suasana yang lebih santai. Penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia dalam wawancara turut memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dalam konteks yang lebih natural.
Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam mendukung perhatian terhadap kesejahteraan dan kesehatan mental siswa di lingkungan pendidikan. Melalui kegiatan sederhana seperti wawancara dan ruang berbagi, kondisi serta pengalaman siswa dapat lebih didengar dan dipahami.
Ke depannya, kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan dengan cakupan siswa yang lebih luas sehingga semakin banyak suara siswa yang dapat didengar. Dengan demikian, sekolah dan guru dapat memperoleh masukan mengenai pengalaman siswa dalam menjalani proses pembelajaran sekaligus membangun lingkungan sekolah yang semakin mendukung kesejahteraan siswa.

Kontributor: Kayana Amoretta Azizah
Kontak Kami
Copyright © 2026,