Bahasa Indonesia
English
You are here
“Aku Tidak Tahu.” Lalu Apa? Menguatkan Pembelajaran Bahasa Inggris melalui English for Hospitality
Submitted by admin on Fri, 2026-09-18 20:26
Yogyakarta, 17 September 2026 — Pembelajaran bahasa Inggris di sekolah vokasi tidak selalu harus dimulai dari ungkapan yang kompleks. Bagi siswa yang mempelajari bidang pariwisata dan perhotelan, bahasa Inggris dapat diperkenalkan melalui situasi yang dekat dengan bidang yang mereka pelajari. Melalui English for Hospitality, pembelajaran bahasa Inggris menjadi ruang bagi siswa untuk tidak hanya memahami bahasa, tetapi juga berlatih menyampaikan pendapat, memperluas kosakata, serta membangun keberanian untuk mencoba ketika menghadapi sesuatu yang belum mereka ketahui.
Pendekatan tersebut diterapkan sebagai bagian dari kegiatan Praktik Kependidikan (PK) di SMK PI Ambarrukmo 1 Sleman pada 10 September 2026. Kegiatan melibatkan siswa kelas X dan XI, dengan jumlah sekitar 29–32 siswa pada masing-masing kelas. Pembelajaran dirancang secara kontekstual dengan menghubungkan bahasa Inggris dengan situasi yang relevan dengan bidang hospitality.
Pada kelas X, materi asking and giving opinion diajarkan menggunakan Genre-Based Approach (GBA). Siswa diajak memahami dan menggunakan ungkapan untuk menyampaikan pendapat melalui berbagai situasi yang berkaitan dengan pelayanan hotel, seperti kamar hotel yang masih kotor, pencahayaan kamar yang kurang, hingga kebijakan mengenai hewan peliharaan di hotel. Berbagai situasi tersebut menjadi pemantik bagi siswa untuk menggunakan bahasa Inggris dalam konteks yang dekat dengan bidang mereka.
Sementara itu, siswa kelas XI mempelajari discussion text melalui Project-Based Learning (PjBL). Siswa mengeksplorasi berbagai isu yang berkaitan dengan hospitality dan mengembangkan pemahaman melalui proses pembelajaran berbasis proyek. Kegiatan meliputi diskusi, pengembangan ide, serta pembuatan poster sebagai salah satu produk untuk menuangkan gagasan dalam bahasa Inggris.
Selain kegiatan berbasis materi dan proyek, proses pembelajaran juga dilengkapi dengan aktivitas yang bertujuan memperkuat penguasaan kosakata. Melalui vocabulary quiz, siswa diperkenalkan pada sinonim, antonim, dan kosakata baru. Aktivitas sentence puzzle secara berkelompok juga digunakan untuk mendorong siswa merespons situasi tertentu menggunakan bahasa Inggris. Berbagai kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui praktik, bukan hanya melalui penjelasan materi.
Proses pembelajaran berlangsung secara dinamis. Sebagian siswa menunjukkan antusiasme, sementara beberapa siswa masih merasa ragu dan mengungkapkan bahwa mereka belum mampu mengerjakan tugas. Meskipun demikian, mereka tetap berusaha menyelesaikan tugas, bertanya ketika mengalami kesulitan, berdiskusi dengan teman, dan mencari cara untuk menyelesaikan kegiatan yang diberikan. Hal tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman belajar bahwa ketidaktahuan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti mencoba.
Pengalaman mendampingi siswa kelas XII dalam mempersiapkan CV untuk wawancara hotel juga menjadi refleksi mengenai pentingnya membangun pembelajaran yang relevan secara bertahap sejak kelas-kelas awal. Pembelajaran bahasa Inggris tidak harus menunggu hingga siswa berada di tahap akhir pendidikan. Dari kelas X hingga XII, pembelajaran dapat dikembangkan secara bertahap untuk membangun fondasi keterampilan komunikasi dan keterampilan vokasi yang dapat mendukung siswa dalam konteks akademik maupun profesional di masa mendatang.
Pendekatan yang bertahap dan kontekstual tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 4: Quality Education, yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas dan kesempatan belajar sepanjang hayat. Dalam konteks pendidikan vokasi, kualitas pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, tetapi juga dengan pengembangan keterampilan yang relevan serta kemampuan untuk terus belajar di luar ruang kelas. Dengan menghubungkan bahasa Inggris dengan konteks hospitality, siswa memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan komunikasi, menerapkan pengetahuan dalam situasi yang bermakna, serta membangun kebiasaan untuk menghadapi tantangan dengan bertanya, mencoba, dan mencari solusi.
Pada akhirnya, belajar bukan berarti harus mengetahui segala sesuatu sejak awal. Ada kalanya seorang siswa berkata, “Aku tidak tahu.” Namun, yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelahnya: bertanya, mencoba, mencari cara, dan belajar kembali. Karena “aku tidak tahu” tidak harus berarti “aku berhenti.”
Lakukan sesuatu. Cari cara.
Kontributor: Syakiva Azzahra
Kontak Kami
Copyright © 2026,